
( Wawancara dengan pak Bush dalam terjemahan )
Wawancara ini berlangsung sesaat sesudah selesai sarapan bersama. Waktu itu, ketika ditawari menu, saya minta dibuatkan nasi goreng dan segelas kopi tubruk.
" Pak Bush, badan anda nampaknya masih oke-okey saja ? " Pak Bush tersenyum.
" Tiap hari saya senam ", jawabnya.
" Pake jamu-jamuan ?"
" Wah...gak deh ", Saya minta ijin menyulut sebatang rokok. Dia memperbolehkan.
" Ini masalah inti pak Bush ...",
" Oh, silakan...silakan ", sahutnya
" Anda menyesal nggak sih sudah membunuh orang Irak demikian banyak ? "
Pak Bush diam. Matanya melihat langit rumah. Lalu dia menarik nafas panjang.
" Ini memang salah saya ". jawabnya dengan nada seperti menyesal. Saya biarkan dia memperinci jawabannya.
" Mestinya tidak demikian. Memang kasihan rakyat Irak. Saya menyesal.....", katanya lirih nyaris tak terdengar.
" Ini akibat sifat anda yang ndableg, dikasih tahu enggak mau tahu. Apa memang jadi sifat anda ? "
" Iya...kalau saya tidak ndableg, saya tidak akan jadi presiden 2 periode ", sanggahnya.
" Lha sekarang, anda bisanya cuman meyesal ? " Dia diam.
" Kalau dalam Islam, jika anda benar-benar bertobat, jika diterima Allah tobat anda pasti dihapus dosa-dosa anda ", Dia kaget !
" masak iya, gitu.....? ", Dia terheran-heran.
Sayapun menceritakan tentang Islam dan keutamaannya. Saya juga sebutkan dan jelaskan tentang rukun Islam dan rukun Iman. Saya jelaskan bahwa Islam mencintai perdamaian, namun jika diajak perang akan disambutnya.
Panjang lebar saya terangkan perihal Islam.
pak Bush menyimak dengan seksama.
" Islam tidak seburuk prasangka anda kok pak Bush. Anda ini kurang teliti terhadap bisikan-bisikan sekeliling anda ". Lagi-lagi dia diam.
Saya mengamati mimiknya dalam-dalam.
" Anda punya jimat pak Bush ? " Mendengar pertanyaan yang menohok, dia terkejut.
" Kok tahu ? " Dia terkekeh-kekeh.
" Allah memberitahu saya. Setiap anda berkunjung, jimat itu anda bawa ".
Lagi-lagi dia terkekeh-kekeh.
" Anda juga punya kutil di kaki kanan anda. Hayo..iya to.... ?
Lagi-lagi dia terkekeh-kekeh.
Saya menawari untuk mau mempelajari tentang Islam, supaya dia tidak salah tentang Islam. Dia mengangguk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar